Penanganan Alpukat

Alpukat merupakan buah yang bersifat klimaterik. Setelah panen buah masih terus melangsungkan aktivitas fisiologis seperti respirasi dan transpirasi. Buah alpukat tidak dapat bertahan lama setelah panen apabila tidak ditangani secara baik dan benar. Kerusakan utama buah alpukat hampir sama dengan kerusakan yang terjadi pada buah segar pada umumnya yaitu memar, berjamur, daging buah berubah warna menjadi coklat, lembek berair dan bahkan busuk, matang tidak normal, terjadi susut bobot serta penurunan nutrisi.

Kegiatan penanganan pascapanen merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh para petani, kelompoktani, gapoktan, kelompok usaha bersama, koperasi tani atau pengumpul buah lokal ditambah dengan kegiatan pascapanen yang dilaksanakan oleh suplayer menengah/besar atau eksportir. Dalam manajemen penanganan panen dan pascapanen perlu memperhatikan persyaratan-persyaratan sarana dan prasarana pascapanen, teknis pelaksanaan serta higieni dan sanitasi.

Manajemen packinghouse yang tercakup dalam unsur-unsur Good Handling Practice (GHP) meliputi lokasi bangunan, fasilitas dan cara sanitasi, alat produksi, bahan perlakuan, proses penanganan awal. Pengemasan dan pelabelan, penanganan produk akhir, penyimpanan pengendalian hama dan penyakit pascapanen, kompetensi tenaga pelaksana, pengangkutan dan distribusi serta pengawasan dan pembinaan. Dalam mendukung pemasaran buah alpukat yang lebih berdaya saing harus memperhatikan kuantitas dan mutu buah. Langkah yang dilaksanakan untuk meningkatkannya dilakukan melalui penerapan Good Agriculture Practice/Standar Operasional Prosedur (GAP/SOP) dan GHP pada buah alpukat. Melalui penerapan kedua norma tersebut diharapkan menghasilkan produk buah yang bermutu, dan kontinuitas produksinya terjamin. Pascapanen merupakan kegiatan setelah panen yang meliputi pembersihan, pencucian, penyortiran, grading, pengemasan, pelabelan dan penyimpanan serta pengangkutan. Dengan penerapan/penanganan pascapanen yang benar diharapkan mutu buah alpukat tetap terjamin sampai ke tangan konsumen dan menekan kehilangan hasil.

A. Panen


Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini yaitu umur panen,waktu panen, dan metode panen, Buah alpukat dipanen pada umur sekitar 180-200 hari sejak bunga mekar atau pada tingkat kematangan 80-85 %. Indeks kematangan buah alpukat dirikan dari penampakan dan kekerasan buah. Ciri-ciri alpukat yang sudah bisa dipanen diantaranya : (1) warna kulit buah sudah hijau muda agak kusam (tidak mengkilat), (2) terdapat bintik-bintik pada kulit buah, (3) apabila buah diketuk dengan jari, berbunyi nyaring, dan (4) bila buah digoyang akan terdengar goncangan biji. Buah yang mempunyai kualitas sesuai dengan GHP memiliki ciri/syarat panen sebagai berikut : (1) tidak cacat, kulit buah harus mulus tanpa bercak, (2) cukup tua tetapi belum matang, ukuran dan bentuk buah seragam, standar yang digunakan biasanya dalam 1 kg terdiri dari 3 buah atau berbobot maksimal 400 gram. Panen dilakukan pada saat tidak ada embun dan dalam kondisi kering, cuaca terang, tidak habis hujan, serta sebaiknya dilakukan pagi hari atau sore hari (antara jam 08.00-11.00 dan 15.00-16.00). Metode panen dapat mempengaruhi kualitas dan mutu buah. Metode panen harus memperhatikan alat panen yang digunakan, umur panen dan indeks kematangan buah. Buah yang terjangkau dipetik mengunakan gunting panen, buah yang jauh dan tidak terjangkau dipetik dengan bantuan alat panen berupa galah berpisau dengan penampung buah.

B. Penanganan Pascapanen


1. Pengangkutan Hasil Panen.

Setelah buah dipanen, dikumpulkan di tempat sementara di kebun, kemudian buah diangkut dengan dipikul atau menggunakan transportasi ke bangsal pascapanen yang berada di tempat pengumpul lokal, tengkulak atau gapoktan. Sebagai wadah buah dapat menggunakan keranjang plastik. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengangkutan, antara lain : (1) wadah atau keranjang plastik tempat buah diberi alas daun pisang atau koran dengan berat maksimal 40 kg, (2) keranjang plastik ditumpuk maksimal 2 keranjang per satu lapis, (3) waktu pengangkutan jangan terlalu lama, keranjang harus segera diangkut ke bangsal pascapanen/packing house dan segera ditimbang.

2. Pembersihan.

Pembersihan buah untuk menghilangkan segala macam kotoran yang menempel serta memberikan buah yang menarik. Pembersihan dapat dilaksanakan di tempat pengumpulan, penampungan sementara di tingkat pengumpul maupun di bangsal pascapanen oleh pengumpul, suplayer atau ekportir. Pembersihan menggunakan kain yang bertekstur lembut dan lembab, dilap berhati-hati, merata dan diangin-anginkan.

3. Sortasi.

Tujuannya untuk menyeleksi dan memisahkan buah yang baik, kurang baik, cacat dan busuk, serta buah dengan penampilan, bentuk, warna dan tingkat kematangan yang seragam. Selain itu juga memilah-milah buah berdasarkan bentuk dan ukuran sesuai permintaan pasar. Buah yang sudah disortasi ditempatkan pada keranjang plastik.

4. Grading.

Dilaksanakan di bangsal pascapanen yang bersih dan teduh, buah dipilah berdasarkan kriteria berat/bobot buah atau kriteria ukuran yang telah ditetapkan. Pengkelasan buah alpukat berdasarkan bobot yaitu: (a) sangat besar : > 550 gr / buah, ( b) besar : 451-550 gr/buah, (c) sedang : 351-450 gr/buah, (d) kecil : 250-350 gr/buah dan sangat kecil : < 250 gr/buah. Penggolongan ini secara umum sedangkan untuk masing-masing varietas alpukat dapat berbeda tergantung kesepakatan antara penjual dan pembeli.

5. Pengemasan.



Wadah yang digunakan untuk pengemasan buah dapat berupa peti kemas, keranjang plastik atau box karton. Buah ditempatkan pada wadah sesuai dengan tujuan pasar, yaitu : (a) untuk transportasi jarak jauh antar pulau/ antar provinsi menggunakan peti kayu, (b) untuk transportasi jarak pendek antar kota menggunakan keranjang plastik (c) untuk transportasi jarak menengah dan jauh ( ekspor) menggunakan kotak karton.

6. Pelabelan. Sebelum didistribusi perlu dilakukan pelabelan.

Pelabelan bisa dilakukan langsung pada buah atau pada kemasan. Pelabelan pada kemasan dilakukan saat pembuatan kemasan atau saat buah sudah dikemas atau rapi. Label dapat berisikan informasi antara lain nama produk, nama kelompoktani, dan nomor registrasi kebun.

7. Pengangkutan dan Distribusi.

Pengangkutan dan distribusi bertujuan menyampaikan produk dari produsen ke tangan konsumen dengan menjaga kualitas hasil. Dalam pengangkutan dan distribusi dibutuhkan form pencatatan sebagai kontrol keluar masuknya produk. Gunakan alat transportasi sesuai dengan tujuan pasar dan jarak tempuh, untuk pasar modern menggunakan transportasi berpengatur udara, suhu diatur 12-15 C. Selama pengangkutan hindari sinar matahari langsung, panas berlebihan dan hujan atau pelaksanaan pengangkutan pada malam hari.

Disarikan oleh : Lasarus, Pusat Penyuluhan Pertanian

Direktorat Budidaya dan Pascapanen Buah, Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian.